We can't find the internet
Attempting to reconnect
Something went wrong!
Attempting to reconnect
Mengapa Buku di Perpustakaan
Selalu Bisa
Ditemukan?
Mengenal klasifikasi, yaitu sistem rahasia di balik jutaan buku yang tersusun rapi di seluruh perpustakaan dunia.
Apa itu Klasifikasi Perpustakaan?
Pernahkah Anda masuk ke perpustakaan dan bertanya-tanya: bagaimana mungkin dari ribuan, bahkan jutaan koleksi, pustakawan bisa langsung tahu di mana suatu buku berada? Jawabannya terletak pada satu konsep mendasar: klasifikasi perpustakaan.
Klasifikasi perpustakaan adalah proses mengelompokkan bahan pustaka berdasarkan isi atau subjeknya, lalu memberikan kode unik yang disebut nomor kelas atau call number. Kode ini berfungsi seperti "alamat" bagi setiap buku, yang menunjukkan dengan tepat di mana buku tersebut disimpan di rak.
"Klasifikasi adalah seni menempatkan pengetahuan pada tempatnya, sehingga siapa pun yang membutuhkannya bisa menemukannya."
Tanpa sistem ini, sebuah perpustakaan hanyalah gudang penuh buku. Dengan klasifikasi, ia menjadi peta besar seluruh pengetahuan manusia yang bisa dinavigasi oleh siapa saja: anak sekolah yang mencari bahan tugas, peneliti yang menggali data, maupun pembaca yang sekadar ingin menemukan bacaan baru.
Bayangkan Seperti Ini
Cara termudah memahami klasifikasi adalah dengan melihat contoh nyata dari kehidupan sehari-hari.
Di Supermarket
Sabun ada di lorong perawatan diri. Beras di bagian sembako. Susu di rak pendingin. Produk serupa dikumpulkan di satu tempat agar mudah ditemukan.
Di Perpustakaan
Buku masak ada di rak 641. Buku sejarah Indonesia di rak 959.8. Kamus bahasa di seksi 400. Topik serupa dikumpulkan berdekatan di rak yang sama.
Bedanya, supermarket mengelompokkan barang, sedangkan perpustakaan mengelompokkan pengetahuan. Cakupan pengetahuan jauh lebih luas dan kompleks dibandingkan produk apa pun di dunia. Di sinilah klasifikasi menjadi sebuah ilmu tersendiri.
Analogi lainnya: bayangkan sebuah peta kota. Kawasan perumahan, kawasan industri, dan kawasan komersial masing-masing memiliki zona tersendiri. Perpustakaan pun demikian. Ada zona untuk ilmu alam, zona untuk seni, zona untuk sejarah, dan setiap buku "tinggal" di zona yang sesuai dengan isinya.
Dari Mana Sistem Ini Berasal?
Kebutuhan untuk mengatur koleksi perpustakaan sudah ada sejak peradaban kuno. Namun sistem yang kita kenal hari ini lahir dari satu momen penting di penghujung abad ke-19.
Era Kekacauan yang "Teratur"
Pada masa itu, setiap perpustakaan menyusun buku berdasarkan urutan pembelian, ukuran fisik, atau bahkan warna sampul. Belum ada standar bersama, sehingga cara pengelolaan koleksi berbeda dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya.
Melvil Dewey dan Idenya yang Revolusioner
Seorang pustakawan muda Amerika bernama Melvil Dewey menerbitkan sebuah pamflet tipis berjudul A Classification and Subject Index. Di dalamnya, ia mengusulkan cara membagi seluruh pengetahuan manusia ke dalam sepuluh kelas besar menggunakan angka 000 hingga 999. Sistem ini kemudian dikenal sebagai Dewey Decimal Classification (DDC).
Penyebaran ke Seluruh Dunia
DDC mulai diadopsi oleh berbagai perpustakaan di Eropa dan Amerika. Bersamaan dengan itu, muncul pula sistem lain seperti Universal Decimal Classification (UDC) dan Library of Congress Classification (LCC) di Amerika Serikat.
Standar Global yang Terus Berkembang
DDC kini telah berada di edisi ke-23 dan digunakan di lebih dari 135 negara, termasuk Indonesia. Sistem ini terus diperbarui untuk mengakomodasi berbagai bidang ilmu baru seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, dan ilmu lingkungan.
Dewey Decimal Classification: Sepuluh Kelas Utama
Bayangkan seluruh pengetahuan manusia dibagi menjadi sepuluh "laci besar". Setiap laci punya label angka ratusan, dan masing-masing dibagi lagi menjadi sepuluh subdivisi, dan seterusnya. Semakin spesifik topiknya, semakin panjang angkanya.
Misalnya, angka 641 menunjukkan topik Makanan dan Minuman (subbagian dari kelas 600 Teknologi), dan 641.5 lebih spesifik lagi, yaitu topik Memasak. Semakin banyak angka di belakang titik desimal, semakin spesifik pula subjeknya.
Membaca Nomor Panggil (Call Number)
Nomor panggil adalah kombinasi kode yang ditempelkan di punggung buku. Ia terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing membawa informasi penting. Mari kita bedah sebuah contoh nyata:
DEP
m
641 = Makanan & Minuman
.5 = Memasak
3 huruf pertama dari nama keluarga pengarang
Huruf pertama judul buku (huruf kecil)
Dengan membaca nomor ini, siapa pun, termasuk pengunjung yang belum pernah bertemu pustakawan sekalipun, dapat langsung berjalan ke rak nomor 641, mencari buku dengan kode DEP, dan menemukan buku yang dicari. Itulah kekuatan dari sistem klasifikasi yang baik: siapa saja bisa mandiri menemukan buku yang dibutuhkan.
Tidak Hanya DDC: Sistem Lain di Dunia
DDC bukan satu-satunya sistem klasifikasi yang digunakan perpustakaan. Ada beberapa sistem lain yang masing-masing memiliki kelebihan dan konteks penggunaannya sendiri.
Dewey Decimal Classification
Sistem paling luas digunakan di dunia, terutama oleh perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah. Menggunakan angka desimal yang intuitif dan mudah dipelajari.
Digunakan di 135+ negaraUniversal Decimal Classification
Dikembangkan dari DDC namun jauh lebih rinci dan fleksibel. Populer di Eropa dan perpustakaan khusus yang membutuhkan kedalaman subjek tinggi. Menggunakan tanda baca seperti +, /, dan : untuk menyatakan hubungan antar topik.
Populer di Eropa & perpustakaan risetLibrary of Congress Classification
Digunakan oleh Perpustakaan Kongres Amerika Serikat dan banyak perpustakaan akademik besar. Menggunakan kombinasi huruf dan angka, dirancang untuk koleksi yang sangat besar dan beragam.
Standar di perpustakaan akademik ASDi Indonesia, sebagian besar perpustakaan umum dan sekolah menggunakan DDC, sementara beberapa perpustakaan universitas dan lembaga penelitian menggunakan UDC. Kedua sistem ini saling kompatibel, sehingga pengetahuan tentang satu sistem akan memudahkan pemahaman terhadap sistem lainnya.
Mengapa Ini Penting Bagi Anda?
Klasifikasi mungkin terdengar seperti urusan "dapur" perpustakaan, sesuatu yang hanya perlu diketahui oleh pustakawan. Namun kenyataannya, memahami sistem ini memberikan keuntungan nyata bagi setiap pengguna perpustakaan.
Navigasi Mandiri
Anda tidak perlu selalu mengandalkan pustakawan. Dengan mengenal nomor kelas, Anda bisa langsung menuju rak yang tepat, seperti membaca peta kota.
Menemukan yang Tak Terduga
Ketika Anda mencari satu buku di rak, koleksi di sekitarnya juga bertopik serupa. Seringkali Anda menemukan referensi berharga yang tidak Anda cari sebelumnya.
Berlaku di Mana Saja
Karena DDC digunakan secara global, pengetahuan ini berlaku di perpustakaan mana saja, baik di Jakarta, London, Tokyo, maupun New York.
Membaca Katalog dengan Lebih Baik
Saat menggunakan katalog digital perpustakaan, memahami nomor kelas membantu Anda menyaring dan memilih hasil pencarian dengan lebih tepat dan efisien.
Bagi seorang pembaca, mengenal sistem klasifikasi adalah seperti mendapatkan kunci cadangan perpustakaan. Anda bisa menjelajahinya sendiri, kapan saja, tanpa harus menunggu ditunjukkan jalan.
"Setiap nomor di punggung buku adalah undangan untuk menjelajah."
Kini setiap kali Anda melihat angka seperti 641.5 atau 959.8 pada punggung buku, Anda tahu persis apa artinya dan ke mana pengetahuan itu akan membawa Anda.