We can't find the internet
Attempting to reconnect
Something went wrong!
Attempting to reconnect
Curatorian Alpha Release
Curatorian Administrator
Curating the Curator in Curatorian
24 March 2026
Belum ada komentar
Memperkenalkan Curatorian: Ruang Kolaborasi dan Pengelolaan Koleksi untuk Pegiat GLAM
Hari ini, saya ingin membagikan sesuatu yang sudah lumayan lama saya kerjakan, dan akhirnya siap untuk diperkenalkan kepada publik.
Kilas balik sebelumnya, saya pernah beberapa kali mengikuti konferensi dan pelatihan untuk forum atau asosiasi yang berkaitan dengan perpustakaan. Kegiatannya seru, asyik, dan bisa bertemu banyak orang. Namun, setelah kegiatan tersebut usai, kadang saya lupa terkait detailnya (baik pesertanya, informasi kegiatannya, maupun momen dari kegiatan tersebut). Sering juga terjadi ketika ada beberapa kegiatan menarik, tetapi tanggal pendaftarannya sudah terlewat. Akhirnya, saya coba merumuskan sesuatu untuk memudahkan koneksi antarindividu yang tertarik dan memiliki semangat yang sama.
Dalam penelusuran, riset, dan pencarian solusi dari hal-hal yang saya alami dan khawatirkan, akhirnya terbayang ide untuk membangun sebuah platform bagi para pegiat literasi, pustakawan, arsiparis, kurator museum, kurator galeri, penyuka buku, kolektor, dan profesi atau hobi lain yang terkait.
Kenapa tidak menggunakan media yang ada? WhatsApp? Instagram? Facebook? Blogspot? Berulang kali hal ini sudah terpikirkan, namun semua berakhir pada satu jawaban, yaitu pengalaman kustomisasi. Ketika kita mencoba untuk menggunakan media yang sudah ada, memang beberapa hal dasar dapat terpenuhi. Tetapi, ketika kebutuhan sudah berkembang, kita harus menggunakan banyak sekali media yang tidak terhitung jumlahnya (seperti yang disebutkan di atas).
How to maintain that? Can we make it simple? Well the answer is we can make it simple, but we need to understand how it became complex first.
If you want to get rid of complexity, you shall make it simple. If you want to make it simple, you shall comprehend the complexity.
Dari sana, saya terbayang untuk membangun sebuah media yang cukup simpel, namun bisa menangani kasus kompleks yang mungkin tidak bisa ditangani dengan mudah ketika menggunakan media-media yang lebih simpel. Belajar dari pengalaman, saya sudah tidak asing dengan hal-hal berbau teknis, terutama yang berkaitan dengan teknologi internet dan komputer. Komputer dan internet merupakan kombinasi yang paling baik untuk meningkatkan kapabilitas seseorang dalam melakukan apa pun. Saat ini, banyak tren terkait kerja full-remote yang sering dilakukan oleh banyak orang, di mana kita tidak perlu hadir secara fisik, namun pekerjaan kita dapat selesai dengan mudah menggunakan perangkat yang terhubung ke internet.
Beberapa tahun terakhir, saya sangat tertarik dengan Elixir dan Erlang, sebagai bahasa pemrograman yang tidak terlalu dilirik oleh banyak orang, namun seiring dengan perkembangannya mulai mendapat perhatian dari beberapa pihak (meskipun di luar Indonesia). Erlang merupakan bahasa yang cukup membuat saya terkejut dan bertanya-tanya; kenapa bahasa seperti ini, yang sudah eksis dari tahun 1980 sebagai tulang punggung infrastruktur telekomunikasi, masih belum digunakan secara luas oleh banyak orang? Erlang juga digunakan oleh salah satu media yang paling banyak digunakan oleh orang-orang, mulai dari anak kecil hingga orang tua, yaitu WhatsApp. Namun, dari segi sintaks, Erlang cukup sulit untuk dipahami. Munculah Elixir sebagai jembatan untuk mengutilisasi Erlang dan BEAM VM, sehingga memudahkan banyak orang untuk menggunakan dan mempelajarinya. Elixir juga digunakan oleh Discord sebagai media voice chat real-time.
Berangkat dari pembelajaran terkait teknologi tersebut, akhirnya bertemulah kedua ide ini untuk membuat suatu media yang bisa digunakan oleh pustakawan seperti saya. Media untuk membagikan banyak hal yang berkaitan dengan profesi ini, yang tidak hanya untuk perpustakaan, namun juga untuk profesi lain yang bergelut di bidang GLAM (Gallery, Library, Archive & Museum). Inspirasi ini muncul dengan basis teknologi Elixir dan Erlang, yang mampu menangani ribuan hingga jutaan koneksi, serta basis kebutuhan terhadap media yang mampu memudahkan kita untuk belajar dan berkembang secara lebih baik dalam hidup.
Curatorian
Merupakan suatu kata yang berdengung di pikiran dan jari saya ketika mengingat kembali masalah beserta solusi yang sudah saya bayangkan. "Curatorian" saya ambil dari kata Curator dan Librarian, dengan menggabungkannya dan membuat kepanjangan yang cukup unik:
CURATORIAN : Curator's Information Associated Network
Berbekal ide tersebut, akhirnya pada tahun 2024 saya mencoba untuk membuat branding dan mengumpulkan pendapat dari beberapa pihak yang saya kenal. Namun, pengembangannya belum sampai pada tahap eksekusi dan masih dalam tahap ide serta brainstorming.
Maju ke tahun 2025, di mana pada saat itu Perpustakaan Universitas Padjadjaran menghadapi masalah terkait integrasi koleksi. Perpustakaan Universitas Padjadjaran memang unik karena memiliki perpustakaan fakultas yang menyokong koleksi-koleksi unik milik fakultasnya masing-masing, sehingga ada beragam macam koleksi selain tekstual yang dimiliki oleh fakultas. Universitas Padjadjaran menggunakan SLiMS sebagai sistem pengelolaan perpustakaan untuk seluruh unit yang ada di lingkungannya. Namun, yang menjadi kendala adalah fragmentasi yang bahkan mencapai 20 database untuk masing-masing unit. Banyak kejadian yang menyulitkan pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan untuk mengoperasikan layanan antar-unit. Sebagai contohnya adalah proses inter-library loan yang sering menjadi kendala, lalu proses visitasi yang tidak bisa direkap secara baik, dan terakhir adalah proses katalogisasi koleksi yang menyulitkan pustakawan untuk mengelola koleksi dengan baik.
Dari kejadian tersebut, saat saya akhirnya melanjutkan studi Magister di Program Studi Sistem Informasi, saya memutuskan untuk membangun sebuah perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mengelola koleksi—tidak hanya koleksi perpustakaan, tetapi juga berkaitan dengan koleksi akademik lainnya. GLAM menjadi dasar konsep yang saya pelajari berkat dosen ilmu perpustakaan saya, yaitu Bu Wina Erwina. Akhirnya, saya menyelam lebih banyak mengenai metadata di berbagai lembaga. Perangkat lunak ini saya namakan Voile, yang merupakan nama kain yang berasal dari bahasa Prancis dan juga nama sebuah perpustakaan fiksi yang dijaga oleh Patchouli Knowledge di Touhou Project.
Voile akhirnya saya kembangkan, dan berbarengan dengan ide Curatorian, saya memutuskan untuk membangun ekosistem ini. Kedua software ini bersifat terbuka dan dapat diakses secara umum oleh publik karena saya ingin membangun sebuah ekosistem yang terbuka dan dapat dipelajari, dilihat, diaudit, serta digunakan oleh semua orang. Kendala selanjutnya adalah teknologi ini sangat baru bagi orang-orang di Indonesia dan masih belum dipahami atau bahkan dikenal oleh masyarakat. Akhirnya, saya mencoba untuk membuat platform Curatorian ini agar bisa digunakan secara gratis oleh publik dengan menggunakan server pribadi (Raspberry Pi 4) dan diluncurkan secara umum. Dengan demikian, mereka yang ingin menggunakan sistem ini dapat langsung menggunakannya tanpa harus melakukan instalasi dan mengelola server (cukup dengan mendaftar dan login menggunakan akun).
Sebagai pustakawan di Universitas Padjadjaran, saya sering melihat pengelolaan koleksi di banyak lembaga GLAM (Galleries, Libraries, Archives, and Museums) di Indonesia yang masih banyak dilakukan secara manual dan terpisah-pisah. Belum lagi kalau ada pergantian pimpinan atau pejabat, pasti regulasi dan susunan organisasinya berubah lagi. Pasti berantakan pada masa transisinya, padahal kegiatan pengelolaan koleksi itu dari dulu sampai sekarang harusnya tidak pernah berubah, kan?
Curatorian pada dasarnya membawa kecanggihan Voile agar bisa dipakai oleh siapa saja tanpa perlu pusing memikirkan instalasi. Tinggal daftar, maka Anda bisa langsung mengelola koleksi dan punya katalog publik sendiri.
Tapi lebih dari sekadar aplikasi hosted, visi utama Curatorian adalah menjadi ruang komunitas. Saya ingin platform ini jadi tempat berkumpulnya para profesional dan penggiat GLAM di Indonesia, di mana kita bisa:
- Membangun profil profesional & organisasi (CV / Online Profile)
- Mendata koleksi, baik milik pribadi maupun milik lembaga
- Menulis blog, artikel, atau sekadar berbagi cerita dari lapangan
- Mencari dan mengadakan event atau webinar
- Membuka lowongan, proyek, dan kolaborasi di job board
- Menggalang dana (crowdfunding) untuk operasional atau koleksi
- Dan pastinya, mengelola koleksi & OPAC publik (powered by Voile)
Pustakawan, arsiparis, kurator, pengelola TBM, mahasiswa, dosen, sampai penggiat budaya—semuanya punya ruang di sini.
Soal biaya? Platform ini gratis selamanya untuk individu, mahasiswa, TBM, dan semua institusi non-profit. Ini bukan promo awal rilis atau launching, tapi memang model yang saya usung. Model yang saya usung adalah menyediakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua orang, sehingga kita semua dapat berkembang secara bersama-sama untuk meningkatkan kemampuan dan taraf berpikir manusia secara keseluruhan.
Lalu, bagaimana dengan biaya operasional server? Selama saya memiliki tenaga, waktu, dan pikiran, maka akan saya pastikan untuk membuat Curatorian tersedia secara gratis untuk semua. Saya memiliki filosofi sosialisme yang menurut saya sangat pantas untuk diimplementasikan pada platform ini, di mana saya percaya bahwa setiap orang yang peduli dan memiliki nilai baik untuk membangun peradaban harus membantu orang lain untuk berkembang. Pada akhirnya, setiap orang yang terbantu tersebut juga bisa membantu yang lain dan berkembang secara berkelanjutan bersama-sama.
Curatorian juga tidak menutup diri untuk kontribusi atau sumbangan, baik secara moril maupun materiel. Silakan hubungi kami jika Anda tertarik untuk mendukung pengembangan Curatorian dengan ide, masukan, saran, dan kritik. Jika Anda memiliki keperluan yang berkaitan dengan Curatorian, silakan sampaikan.
Bagi yang penasaran, bisa langsung mampir dan coba di 👉 curatorian.id
(Untuk teman-teman developer yang ingin berkontribusi, Voile core juga tersedia di GitHub). Curatorian Github
Karena platform ini masih sangat awal, masukan dan kritik dari teman-teman akan sangat berarti untuk membentuk komunitas ini ke depannya.
Terima kasih banyak, sampai ketemu di Curatorian! 🙏